Tak bisa dipungkiri bahwa tren smartphone saat ini adalah soal makin menghilangnya bezel. Hal ini diimbangi dengan tingginya rasio layar ke bodi, dan bahkan berubahnya rasio jadi memanjang.
Tren ini diawali oleh
Xiaomi Mi Mix yang mengusung rasio layar ke bodi sebesar 91,3 persen, diikuti oleh LG G6 dan
Samsung Galaxy S8 yang lahir di tahun ini dengan konsep serupa. Konsep 'bezel-less,' 'edge-to-edge display,' serta 'fullscreen design' dan 'infinity display' ini akan makin ramai terpasang di smartphone masa depan.
Masalahnya hanyalah ini hanya untuk smartphone papan atas, dengan konsumen yang diharapkan papan atas juga. Selain itu, ada beberapa kekurangan yang terkadang muncul dari konsep ini. Meski secara kasat mata ini adalah konsep revolusioner yang nampak indah.
Berikut beberapa kekurangannya.
1.
Sebenarnya smartphone tersebut memiliki bezelBenar, tak ada smartphone yang benar-benar cuma mengusung layar di bagian depannya. Di empat sisinya, selalu ada bezel yang diletakkan meski sesedikit apapun.
Bukannya teknologi tak bisa menciptakan teknologi di mana smartphone mengusung layar secara keseluruhan. Namun pertimbangan harga jadi masalah. Jika ada smartphone semacam itu, harga akan jadi tak masuk akal, dan peta permainan smartphone pasti berubah.
Tentu, Samsung
Galaxy S8,
LG G6 dan
Mi Mix pun memiliki bezel bukan?
2.
Beberapa perangkat keras butuh bezelJika Anda melihat smartphone yang Anda pegang saat ini, tentu terdapat beberapa komponen utama: kamera selfie, speaker, serta sensor proximity. Terdapat juga
LED notifikasi dan di beberapa smartphone juga terdapat tombol home atau tombol navigasi baik fisik maupun kapasitif serta sensor cahaya sekitar.
Tentu semua komponen tersebut terletak di bagian bezel smartphone. Layar merupakan komponen yang terpisah dari itu semua, sehingga akan sulit untuk menjadikannya satu di layar secara keseluruhan.
3.
Beberapa software juga butuh bezelTerkait soal banyak aspek hardware yang butuh bezel, banyak sekali aspek yang tak bekerja maksimal jika bezel dihilangkan. Bayangkan jika Anda menonton
YouTube di smartphone masa depan dengan tanpa layar, lalu terganggu oleh adanya speaker, sensor, dan juga kamera.
Faktanya, hal tersebut telah terjadi di smartphone papan atas paling anyar, Essential Phone, besutan mantan petinggi Android, Andy Rubin. Di Essential Phone, layarnya terpotong oleh kamera depan. Hal ini memperlihatkan kalau kamera tak bisa dicampur dengan layar.
4.
Aspek rasio yang belum sesuai dengan pembuat kontenAspek rasio yang diusung oleh smartphone berlayar full screen cukup beragam. Mulai dari Xiaomi Mi Mix yang mengusung 17:9, LG G6 18:9 atau 2:1, Samsung Galaxy 18,5:9, serta Essential Phone adalah yang paling ekstrem dengan 19:10. Permasalahannya adalah banyak konten yang belum cocok dengan aspek rasio ini.
Kebanyakan konten di YouTube, aspek rasionya adalah 16:9. Berbagai alat untuk mengambil gambar pun, seperti kamera video, kamera DSLR, kamera cine, bahkan kamera smartphone sendiri, didesain dengan aspek rasio tersebut. Meski demikian banyak konten di
Netflix dan
Amazon Prime yang mengklaim menggunakan aspek rasio untuk smartphone fullscreen.
[idc]